Selasa, 29 Mei 2007

Cerita April


bapak, diluar hujan, rumah kita bocor
bapak, rumah kita ambruk
bapak, aku dingin dan lapar
bapak, mintalah pada mereka rumah yang layak
bapak, katakan kau telah jual nyawamu untuknya
aku akan perbaiki rumahku
tulangku jadi tiang
darahku jadi cat
kulitku jadi atap
kita masih bisa hidup
kau bias makan dagingku


bapak mengusap rambutku yang mulai ditumbuhi toga
menggeser pita merah-putih kanak-kanakku

Puisi “Rumah untuk Bapak”
Oleh Oka Rusmini
Dari Patiwangi



NONTON NAGA BONAR jadi 2 YUKS!!!!!

Bulan April ini saya menyempatkan diri untuk menonton sebuah film Indonesia berjudul NAGA BONAR jadi 2, sebenernya bukan menyempatkan diri sih tapi emang bener2 sempet…maklum pengangguran tingkat tinggi jadi pasti selalu punya banyak waktu luang..hehehe…Ketika film baru dimulai, bersama penonton yang lain saya pun ikut terhanyut dengan cerita film tersebut. Hingga akhirnya sampailah pada adegan dimana Naga Bonar ingin “tidur bersama” dengan Bonaga dan ketika mereka “tidur bersama” itu, Naga Bonar memperhatikan wajah Bonaga sambil mengelus2 rambut Bonaga. Tiba2 saja saya menjadi teringat akan almarhum Bapak saya. Bayangan ketika beliau masih ada dimana hampir setiap hari, setiap beliau akan pergi shalat shubuh di mesjid, beliau akan datang dulu ke kamar saya, membetulkan letak selimut saya, memijat kaki saya sampai terdengar azan shubuh dan baru lah beliau berangkat ke mesjid. Saya tidak sanggup untuk tidak menangis. Film yang sebenernya lucu itu mendadak menjadi tidak lucu lagi buat saya. Dan akhirnya saya pun menjadi sangat2 sentimentil. Saya jadi menjudge penonton yang tertawa terbahak2 melihat adegan itu. Apalagi ketika melihat adegan Naga Bonar yang naik ke patung Jendral Sudirman untuk menurunkan tangan Jendral yang sedang hormat itu di tengah2 jalan kota Jakarta yang mungkin warganya sama sekali tidak mengenal, tidak menghormati perjuangan pahlawan nya. Inikan cerita sedih…Ko bisa sih mereka tertawa…begitu pikir saya.
Ketika film berakhir saya pun pulang ke rumah. Saya lalu menelpon seorang teman (dengan diam2 karena takut ketauan Ibu saya) untuk menceritakan film itu dan menceritakan bagaimana sentimentilnya saya menonton film yang padahal lucu itu. Saya juga menangis sejadi2nya karena melulu ingat akan almarhum Bapak saya. Saya sudah lama tidak menangis seperti itu. Di rumah dimana saya tinggal dengan Ibu saya, saya selalu berusaha menjadi anak yang kuat untuk beliau. Saya tidak pernah menunjukkan kesedihan saya. Saya selalu berusaha terlihat tegar. Karena jika Ibu saya melihat saya menangis, maka beliau pun akan ikut menangis. Jika beliau melihat saya bersedih maka beliau akan lebih bersedih dari pada saya sendiri. Maka saya pun tidak pernah menangis di hadapan beliau. Namun ini menjadi berakibat buruk karena saya tidak pernah mengeluarkan emosi saya. Saat saya menangis teman saya membiarkan saya menangis dan membiarkan semua emosi saya keluar. Dia membiarkan saya curhat tanpa henti. Dia membiarkan saya menceritakan bagaimana saya bersedih ketika saya lulus kuliah dan wisuda tapi sudah tidak ada Bapak disamping saya, ketika saya pertama kali mendapat pekerjaan dan pertama kali gajian saya tidak bisa membelikan apa2 untuk Bapak. Padahal dulu ketika Bapak masih ada, kita berdua suka berkhayal jika suatu saat saya telah bekarja dan gajian, kita akan makan sate padang terenak di Bandung, yang terletak di Alun2 kota Bandung, bersama2. Dan selama berjam2 saya terus bercerita dan menangis secara bersamaan.
Setelah semua emosi saya keluar. Saya pun akhirnya merasa lega dan tenang. Lalu barulah teman saya bicara. Dia mengatakan bahwa Bapak saya sebenernya masih ada. Ada di hati saya. Ada dalam diri saya. Ada dalam harapan saya. Ada dalam semangat saya. Ada dalam doa2 saya. Saya pun langsung tersadar. Benar!!!! Dia sangat2 benar!!!! Bapak saya tidak kemana2. Jasad bisa saja pergi, tapi jiwanya masih akan tetap ada dalam diri saya. Seketika itupun saya tersenyum. Mengingat Bapak saya. Meresapi keberadaannya.
Lalu saya pun dapat tertawa terbahak2 mengingat Dedi Mizwar yang naik ke patung Jendral Sudirman. Betul2 tertawa dan berfikir bahwa cerdas sekali dia bisa mengangkat masalah ini ke permukaan dalam bentuk film yang menghibur. Karena mungkin saja penonton yang saya “judge” tidak menghargai pahlawannya, justru telah berbuat banyak untuk negaranya. Justru mungkin mereka tertawa karena itu adalah sebuah paradoks, bahwa di zaman seperti sekarang ini ada banyak cara untuk menunjukkan kita mengingat jasa para pahlawan dan menghormati semua perjuangannya. Bukan hanya dengan memberi hormat kepada patung pahlawan.
Saya sangat berterimakasih kepada teman saya yang telah mengingatkan saya. U such a great friend in this very fake world =). Danke!

1 komentar:

DiAnDiAn mengatakan...

huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....
sediiiihhhhh..
menyayat hatiiii
merobek2 asa...
halah..mo nyoba2 bicara puitis..=D